(KETUA PD HIMPAUDI Bojonegoro)
Hari Kesaktian Pancasila bukan sekadar
mengenang sejarah perjuangan bangsa, tetapi juga menjadi momentum untuk kembali
bertanya kepada hati: sudah sejauh mana nilai-nilai Pancasila benar-benar hadir
dalam kehidupan mereka yang setiap hari mengabdikan diri untuk mencerdaskan
anak bangsa? Di ruang-ruang PAUD yang sederhana, para pendidik menanamkan nilai
ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, gotong royong, dan keadilan kepada anak-anak
sejak usia dini. Mereka mungkin belum disebut “guru” secara utuh dalam
perjalanan regulasi yang sedang diperjuangkan, tetapi setiap hari mereka
menjalankan tugas yang sesungguhnya sangat dekat dengan jiwa seorang guru.
Di balik senyum seorang pendidik PAUD, ada
pengabdian yang sering kali tidak terlihat. Ada langkah kaki yang tetap datang
ke sekolah meski kesejahteraan belum sebanding dengan tanggung jawab, ada waktu
yang diberikan untuk menyiapkan pembelajaran, membuat media, mendampingi tumbuh
kembang anak, berkomunikasi dengan orang tua, hingga mengikuti berbagai
pelatihan untuk meningkatkan kompetensi. Mereka tidak hanya mengajarkan huruf
dan angka, tetapi sedang membangun fondasi karakter generasi Indonesia. Jika
pendidikan adalah jalan menuju masa depan bangsa, maka pendidik PAUD adalah
mereka yang meletakkan batu pertama di jalan tersebut.
Pada Hari Kesaktian Pancasila ini, para
guru dan pendidik PAUD tidak sedang meminta keistimewaan. Mereka sedang menanti
hadirnya keadilan dan kepastian pengakuan atas pengabdian yang selama ini
mereka jalankan. Harapan itu tertuju pada pemerintah dan para pembentuk
kebijakan agar perjuangan revisi Undang-Undang Guru dan Dosen dapat benar-benar
menjadi jalan bagi pengakuan dan perlindungan yang lebih jelas bagi pendidik
PAUD sebagai guru. Bukan sekadar perubahan istilah, tetapi sebuah pengakuan
bahwa mereka memiliki peran penting dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.
Mungkin inilah bentuk “kesaktian” yang
sedang dinantikan oleh guru PAUD: bukan kesaktian yang datang dengan kekuasaan,
melainkan kesaktian sebuah negara dalam menghadirkan keadilan bagi mereka yang
telah mengabdikan hidupnya untuk generasi penerus. Negara yang kuat bukan hanya
negara yang mampu membuat kebijakan besar, tetapi juga negara yang mampu
melihat perjuangan orang-orang kecil yang bekerja dalam diam. Pancasila
mengajarkan keadilan sosial; maka semoga nilai itu juga menemukan jalannya
hingga ke ruang-ruang PAUD, kepada para pendidik yang selama ini setia
menyalakan cahaya pertama bagi anak-anak Indonesia.
Hari ini, guru PAUD mungkin masih menunggu. Menunggu dengan sabar, berjuang dengan ikhlas, dan berharap tanpa berhenti. Semoga penantian itu tidak menjadi penantian yang sia-sia. Semoga revisi Undang-Undang Guru dan Dosen menjadi pintu menuju pengakuan yang lebih adil bagi pendidik PAUD. Dan semoga suatu hari nanti, ketika anak-anak yang dulu mereka dampingi tumbuh menjadi generasi penerus bangsa, negara dapat berkata dengan bangga: “Kami melihat pengabdian kalian. Kami menghargai perjuangan kalian. Kalian adalah bagian penting dari perjalanan pendidikan Indonesia.” Itulah kesaktian yang sesungguhnya—ketika Pancasila bukan hanya diucapkan, tetapi diwujudkan dalam keadilan bagi para pendidik bangsa.

















