Selasa, 26 Mei 2026

SPIRIT PERJUANGAN DAN KEIMANAN NABI IBRAHIM SAW DALAM UJIAN PENGORBANAN

 

Oleh: Siti Nur Hidayah, S.Pd

(Wakil Sekretaris PD HIMPAUDI Bojonegoro 2024-2028

Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail merupakan salah satu teladan terbesar tentang spirit perjuangan, ketaatan, dan keimanan dalam ajaran Islam. Peristiwa ketika Nabi Ibrahim mendapat perintah dari Allah SWT untuk menyembelih putranya menjadi ujian yang sangat berat bagi seorang ayah. Namun, di balik ujian tersebut tersimpan pelajaran agung tentang keikhlasan dan kepatuhan kepada Sang Pencipta yang hingga kini menjadi inspirasi bagi umat Muslim di seluruh dunia. 

Nabi Ibrahim dikenal sebagai sosok yang memiliki iman sangat kokoh. Sejak muda, beliau telah memperjuangkan tauhid dan menolak segala bentuk penyembahan berhala yang dilakukan kaumnya. Perjuangan itu tidak mudah karena beliau harus menghadapi ancaman, hinaan, bahkan hukuman dari masyarakat dan penguasa pada zamannya. Meski demikian, keyakinannya kepada Allah SWT tidak pernah goyah sedikit pun. 

Setelah sekian lama menanti keturunan, Allah SWT akhirnya menganugerahkan Nabi Ismail kepada Nabi Ibrahim. Kehadiran Ismail menjadi kebahagiaan besar bagi beliau dan keluarganya. Nabi Ismail tumbuh menjadi anak yang saleh, taat, dan memiliki akhlak mulia. Kasih sayang Nabi Ibrahim kepada putranya tentu sangat besar karena Ismail adalah buah hati yang telah lama dinantikan. 

Di tengah kebahagiaan itu, Allah SWT memberikan ujian yang sangat berat kepada Nabi Ibrahim melalui mimpi untuk menyembelih Nabi Ismail. Dalam keyakinan para nabi, mimpi tersebut merupakan wahyu yang harus dilaksanakan. Perintah itu menjadi ujian keimanan yang luar biasa karena tidak mudah bagi seorang ayah untuk mengorbankan anak yang sangat dicintainya. 

Walaupun hati beliau dipenuhi rasa sedih dan haru, Nabi Ibrahim tidak membantah perintah Allah SWT. Beliau memahami bahwa kecintaan kepada Allah harus berada di atas segala-galanya, termasuk cinta kepada keluarga dan anak. Ketaatan inilah yang menunjukkan betapa kuatnya iman dan tawakal Nabi Ibrahim kepada Allah SWT. 

Sikap luar biasa juga ditunjukkan oleh Nabi Ismail. Ketika ayahnya menyampaikan perintah Allah tersebut, Nabi Ismail tidak menolak ataupun marah. Dengan penuh keteguhan hati, ia berkata agar ayahnya melaksanakan apa yang diperintahkan Allah SWT. Nabi Ismail yakin bahwa setiap ketentuan Allah pasti mengandung hikmah dan kebaikan. 

Peristiwa itu menggambarkan hubungan ayah dan anak yang dibangun atas dasar keimanan. Nabi Ibrahim mendidik putranya dengan nilai tauhid, kesabaran, dan ketaatan sejak kecil. Karena itulah Nabi Ismail tumbuh menjadi pribadi yang taat kepada Allah dan hormat kepada orang tua. Keteladanan keluarga ini menjadi contoh ideal bagi kehidupan umat Muslim. 

Saat Nabi Ibrahim hendak melaksanakan perintah tersebut, setan berusaha menggoda agar beliau mengurungkan niatnya. Namun, Nabi Ibrahim tetap teguh dan tidak terpengaruh oleh godaan itu. Spirit perjuangan beliau menunjukkan bahwa dalam menjalankan perintah Allah, manusia harus mampu melawan keraguan, rasa takut, dan bisikan keburukan. 

Ketika Nabi Ibrahim benar-benar telah menunjukkan ketulusan dan ketaatan, Allah SWT menggantikan Nabi Ismail dengan seekor hewan sembelihan. Peristiwa itu menjadi bukti bahwa Allah tidak menghendaki darah dan penderitaan manusia, melainkan keikhlasan, ketakwaan, dan pengorbanan hamba-Nya. Ujian tersebut sekaligus menjadi kemuliaan bagi Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. 

Hingga saat ini, peristiwa agung tersebut diperingati umat Islam melalui ibadah kurban pada Hari Raya Iduladha. Ibadah kurban bukan hanya tentang menyembelih hewan, tetapi juga mengajarkan nilai pengorbanan, kepedulian sosial, dan ketaatan kepada Allah SWT. Semangat yang diwariskan Nabi Ibrahim terus hidup dalam hati umat Muslim di berbagai penjuru dunia. 

Spirit perjuangan Nabi Ibrahim mengajarkan bahwa keimanan sejati memerlukan pengorbanan dan kesabaran. Dalam kehidupan modern, umat Islam dapat meneladani beliau dengan tetap istiqamah menjalankan perintah agama meskipun menghadapi berbagai tantangan. Keteguhan hati Nabi Ibrahim menjadi inspirasi agar manusia selalu mendahulukan nilai-nilai kebaikan dan ketakwaan. 

Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail merupakan warisan spiritual yang sangat berharga bagi umat manusia. Dari peristiwa tersebut, umat Islam belajar tentang arti cinta kepada Allah, pentingnya ketaatan, dan kekuatan iman dalam menghadapi ujian hidup. Keteladanan mereka akan selalu dikenang sepanjang masa sebagai simbol pengorbanan, keikhlasan, dan keimanan yang sempurna. 

Ketua Pengurus Daerah Himpaudi Bojonegoro resmi bergabung di INSPIRA RISBO, Perkuat Gerakan Pendidikan Bojonegoro


Kegiatan Diseminasi Crowdsourcing “100 Ide Pendidikan untuk Bojonegoro” yang diselenggarakan oleh Inspira Risbo berlangsung dengan penuh semangat dan antusiasme di Gedung Angling Dharma, kompleks Kantor Pemerintah Kabupaten Bojonegoro pada tanggal 26 Mei 2026. Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam menghimpun gagasan dan inovasi pendidikan dari berbagai kalangan demi mewujudkan pendidikan yang lebih berkualitas dan merata di Bojonegoro. Melalui forum ini, berbagai ide kreatif dan solusi nyata dikumpulkan untuk menjawab tantangan pendidikan di era saat ini.

Acara tersebut dihadiri oleh Setyo Wahono selaku Bupati Bojonegoro, Kepala Dinas Pendidikan,perwakilan IDFoS Indonesia, para tokoh akademisi, praktisi pendidikan, serta berbagai elemen masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap kemajuan pendidikan daerah. Kehadiran para stakeholder ini menunjukkan besarnya dukungan terhadap gerakan kolaboratif yang diinisiasi oleh Inspira Risbo dalam membangun masa depan pendidikan Bojonegoro yang lebih baik.

Kegiatan crowdsourcing “100 Ide Pendidikan untuk Bojonegoro” memiliki tujuan besar, yaitu mewujudkan program Zero ATS atau Zero Anak Tidak Sekolah di Kabupaten Bojonegoro. Program ini diharapkan mampu menjadi langkah strategis dalam menekan angka anak putus sekolah serta memastikan seluruh anak di Bojonegoro mendapatkan hak pendidikan yang layak. Berbagai ide yang dihimpun dalam forum ini diarahkan untuk menciptakan solusi nyata, inovatif, dan berkelanjutan guna menjangkau seluruh lapisan masyarakat.

Selain sesi diseminasi gagasan pendidikan, acara ini juga dirangkai dengan prosesi pengesahan anggota baru Inspira Risbo yang dipimpin langsung oleh ibu pembina, Dr. Hj. Cantika Wahono. Pengesahan anggota baru ini menjadi simbol semangat regenerasi dan penguatan kolaborasi antar akademisi, peneliti, dan pemerhati pendidikan di Bojonegoro. Diharapkan hadirnya anggota baru mampu memperluas kontribusi organisasi dalam memberikan inspirasi dan solusi bagi dunia pendidikan.

Dalam prosesi tersebut Bunda Siti Erwiyanti turut serta resmi dikukuhkan sebagai salah satu anggota baru Inspira Risbo. Bergabungnya Bunda Siti Erwiyanti menjadi kebanggaan tersendiri bagi keluarga besar dunia pendidikan anak usia dini di Bojonegoro. Pengurus daerah HIMPAUDI Bojonegoro turut menyampaikan ucapan selamat dan sukses atas amanah serta kepercayaan yang diberikan, sekaligus berharap dapat terus memberikan kontribusi positif bagi kemajuan pendidikan di Kabupaten Bojonegoro.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bojonegoro, Drs. Ec. M. Anwar Mukhtadlo, M.Si. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan apresiasi mendalam terhadap inisiatif yang dilakukan oleh Inspira Risbo dalam menghimpun berbagai ide pendidikan dari masyarakat. Menurut beliau, keterlibatan banyak pihak dalam dunia pendidikan merupakan hal yang sangat penting untuk menciptakan perubahan yang nyata dan berkelanjutan.

“Kami mengucapkan terima kasih atas berbagai ide inspiratif ini. Pendidikan di Bojonegoro bukanlah PR bagi Dinas Pendidikan semata, melainkan tanggung jawab kolektif seluruh lapisan masyarakat,” ujar Drs. Ec. M. Anwar Mukhtadlo, M.Si dalam sambutannya. Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah, akademisi, komunitas, dan masyarakat dalam membangun pendidikan yang inklusif dan berkualitas di Bojonegoro.

Sementara itu, dalam sambutannya, Setyo Wahono menekankan bahwa keluarga memiliki peran penting sebagai pondasi utama pendidikan anak. Beliau menyampaikan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya bergantung pada sekolah, tetapi juga dimulai dari lingkungan keluarga yang mampu memberikan perhatian, pendampingan, dan motivasi kepada anak-anak untuk terus belajar dan berkembang.

Beliau juga menyoroti persoalan Anak Tidak Sekolah (ATS) yang masih menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Bojonegoro. Menurutnya, diperlukan kerja sama dan komitmen seluruh elemen masyarakat untuk mengatasi permasalahan tersebut agar tidak ada lagi anak-anak Bojonegoro yang kehilangan kesempatan memperoleh pendidikan. Oleh karena itu, gerakan “100 Ide Pendidikan untuk Bojonegoro” dinilai sangat relevan sebagai bagian dari upaya bersama dalam mewujudkan Zero ATS.

Puncak acara ditandai dengan penandatanganan portofolio buku antologi “100 Ide Pendidikan” oleh Setyo Wahono, Drs. Ec. M. Anwar Mukhtadlo, M.Si, serta Pengawas Inspira Risbo, Dr. Hj. Ifa Khoiria Ningrum, S.E., M.M.. Penandatanganan tersebut menjadi simbol komitmen bersama dalam mendukung lahirnya inovasi pendidikan yang dapat diimplementasikan demi kemajuan Bojonegoro.

Melalui kegiatan ini, Inspira Risbo berharap berbagai ide yang telah dihimpun tidak hanya berhenti sebagai wacana, tetapi mampu diwujudkan menjadi program nyata yang memberikan dampak positif bagi masyarakat. Semangat kolaborasi yang terbangun dalam acara ini menjadi bukti bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab bersama. Dengan dukungan seluruh stakeholder, diharapkan cita-cita mewujudkan Bojonegoro sebagai daerah dengan pendidikan yang maju, inklusif, dan bebas Anak Tidak Sekolah dapat segera terwujud.


Bimtek Penjamin Mutu PAUD dan PNF Dorong Perencanaan Berbasis Data Tahun 2026



Bidang Peningkatan Mutu PAUD dan PNF Dinas Pendidikan Kabupaten Bojonegoro menggelar kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Penjamin Mutu melalui Perencanaan Berbasis Data Tahun 2026 pada Selasa, 26 Mei 2026. Kegiatan tersebut berlangsung di lantai 1 Dinas Pendidikan Kabupaten Bojonegoro dan diikuti oleh berbagai unsur pendidik PAUD dari seluruh kecamatan.

Bimtek ini diselenggarakan sebagai upaya meningkatkan kualitas layanan pendidikan anak usia dini melalui penyusunan program yang lebih terukur, terarah, dan berbasis data riil di lapangan. Perencanaan berbasis data dinilai menjadi langkah strategis dalam menjawab tantangan mutu pendidikan di era saat ini.

Peserta kegiatan terdiri dari tiga utusan Kelompok Bermain (KB) di setiap kecamatan, tiga utusan Pos PAUD/SPS di setiap kecamatan, serta tiga utusan Taman Kanak-Kanak (TK) dari masing-masing kecamatan di Kabupaten Bojonegoro. Kehadiran para peserta menunjukkan tingginya antusiasme satuan pendidikan dalam mendukung peningkatan mutu pendidikan.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Ketua PD HIMPAUDI Kabupaten Bojonegoro, Siti Erwiyanti bersama sekretaris HIMPAUDI Kabupaten Bojonegoro sebagai tamu undangan. Kehadiran organisasi profesi pendidikan anak usia dini ini menjadi bentuk dukungan terhadap program peningkatan mutu yang digagas Dinas Pendidikan.

Ditanya pendapatnya melalui saluran telephon, Ketua PD HIMPAUDI Kabupaten Bojonegoro, Bunda Siti Erwiyanti, menyampaikan bahwa kebijakan perencanaan berbasis data membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan. Menurutnya, pendekatan tersebut menjadi langkah penting untuk menciptakan kebijakan yang lebih tepat sasaran.

“Kebijakan ini mengubah arah langkah pendidikan, dari yang asumsi menjadi subjektif,” ujar Bunda Siti Erwiyanti di hadapan peserta bimtek. Pernyataan tersebut mendapat perhatian peserta karena menggambarkan pentingnya penggunaan data dalam pengambilan keputusan pendidikan.

Ia juga menambahkan bahwa satuan PAUD harus mampu membaca kebutuhan lembaga berdasarkan kondisi nyata yang ada di lapangan. Dengan demikian, setiap program yang disusun dapat benar-benar menjawab kebutuhan peserta didik maupun lembaga pendidikan.

Melalui kegiatan ini, peserta mendapatkan pemahaman mengenai tata cara penyusunan perencanaan berbasis data, pemetaan mutu pendidikan, hingga strategi peningkatan kualitas layanan PAUD dan PNF secara berkelanjutan. Materi yang diberikan diharapkan dapat diterapkan langsung di masing-masing lembaga.

Pihak Dinas Pendidikan Kabupaten Bojonegoro berharap kegiatan bimtek ini mampu memperkuat sinergi antara pemerintah daerah, organisasi profesi, dan lembaga pendidikan dalam mewujudkan layanan pendidikan yang berkualitas dan merata di seluruh wilayah Kabupaten Bojonegoro.

Dengan adanya Bimbingan Teknis Penjamin Mutu melalui Perencanaan Berbasis Data Tahun 2026 ini, diharapkan seluruh satuan PAUD dan PNF di Kabupaten Bojonegoro semakin siap menghadapi tantangan pendidikan masa depan dengan langkah yang lebih terencana, akurat, dan berorientasi pada peningkatan mutu pendidikan.

Senin, 27 April 2026

PARENTING NUSANTARA TUMBUHKAN CINTA BUDAYA BANGSA SEJAK BELIA


Ketua PD HIMPAUDI Kabupaten Bojonegoro Bunda Siti Erwiyanti bersama Penilik PAUD dan Ketua PC HIMPAUDI Kecamatan Bojonegoro menghadiri kegiatan Parenting Education di KB dan TK Santa Paulus pada tanggal 27 April 2026. Kegiatan ini mengusung tema “Parenting Nusantara” yang bertujuan mengenalkan keberagaman budaya Indonesia kepada anak sejak usia dini.

Acara berlangsung dengan suasana meriah dan penuh antusias dari seluruh peserta. Anak-anak bersama orang tua terlihat kompak mengikuti setiap rangkaian kegiatan yang telah dipersiapkan oleh pihak sekolah. Kehadiran para orang tua memberikan semangat tersendiri bagi anak-anak dalam menampilkan kreativitas mereka.

Dalam kegiatan tersebut, setiap kelas menghadirkan tema budaya daerah yang berbeda-beda. Anak-anak bersama orang tua bekerja sama menghias kelas dan menyiapkan berbagai perlengkapan sesuai dengan budaya yang diperkenalkan. Hal ini membuat suasana sekolah tampak penuh warna dan nuansa budaya Nusantara.

Salah satu kelas mengangkat tema budaya Jawa. Anak-anak tampil mengenakan pakaian adat Jawa dengan penuh percaya diri sambil memperkenalkan berbagai ciri khas daerah Jawa kepada para tamu undangan dan peserta lainnya.


Selain pakaian adat, anak-anak juga memperkenalkan makanan khas Jawa yang dikenal oleh masyarakat. Mereka menjelaskan berbagai jenis makanan tradisional dengan cara sederhana namun menarik sehingga mudah dipahami oleh teman-teman dan orang tua yang hadir.

Tidak hanya itu, anak-anak juga menyampaikan karakteristik budaya Jawa seperti bahasa, sopan santun, serta beberapa kebiasaan masyarakat Jawa. Penyampaian yang lucu dan menggemaskan membuat suasana kegiatan menjadi semakin hangat dan menyenangkan.

Di kelas lain, anak-anak bersama orang tua memperkenalkan budaya Sumatra. Mereka menampilkan berbagai atribut khas Sumatra mulai dari pakaian adat hingga dekorasi kelas yang disesuaikan dengan nuansa daerah tersebut.


Anak-anak secara bergantian mempresentasikan rumah adat, makanan khas, musik tradisional, dan berbagai keunikan budaya Sumatra lainnya. Dengan pendampingan orang tua, anak-anak terlihat lebih percaya diri saat berbicara di depan teman-temannya.

Kegiatan Parenting Nusantara ini menjadi bentuk kolaborasi yang baik antara sekolah dan orang tua dalam mendukung pembelajaran anak. Melalui kegiatan seperti ini, anak-anak dapat belajar mengenal keberagaman budaya Indonesia dengan cara yang menyenangkan dan interaktif.

Melalui kegiatan ini diharapkan anak-anak semakin mencintai budaya bangsa serta tumbuh rasa bangga terhadap kekayaan Nusantara. Selain menjadi sarana edukasi, kegiatan ini juga mempererat hubungan antara sekolah, orang tua, dan peserta didik dalam menciptakan pembelajaran yang harmonis dan bermakna.




Selasa, 21 April 2026

MAKNA MENDALAM DIBALIK TAMPILAN KARTINI PEJUANG PEREMPUAN

 


SITI ERWIYANTI, S.Pd.I.,M.Pd.

(Ketua PD HIMPAUDI Bojonegoro)

Busana yang dikenakan oleh Ibu Kita Kartini bukan sekadar pilihan estetika, melainkan simbol yang sarat makna filosofis. Setiap unsur—dari jarik, kebaya, hingga sanggul—merepresentasikan nilai-nilai kehidupan perempuan Jawa pada zamannya. Di balik kesederhanaannya, tersimpan pesan tentang identitas, keteguhan, dan perjuangan yang melampaui batas ruang dan waktu.

Jarik yang dikenakan Kartini melambangkan keterikatan pada tradisi dan akar budaya. Motif-motif batik yang menghiasi jarik bukan hanya hiasan, tetapi mengandung filosofi tentang kehidupan, harapan, dan harmoni. Cara melilitkan jarik yang rapi mencerminkan keteraturan dan kesabaran, dua sifat yang sangat dijunjung tinggi dalam budaya Jawa.

Lebih dari itu, jarik juga menjadi simbol pembatas gerak yang sarat makna. Meskipun tampak membatasi langkah, justru di situlah tersimpan pesan tentang kemampuan perempuan untuk tetap berkarya dan berpikir luas dalam keterbatasan. Kartini menunjukkan bahwa keterbatasan fisik tidak harus membatasi kebebasan intelektual.

Kebaya yang dikenakan Kartini menggambarkan kelembutan dan keanggunan perempuan. Dengan potongan yang sederhana namun elegan, kebaya mencerminkan kesederhanaan yang tidak menghilangkan martabat. Kartini mengenakan kebaya sebagai bentuk penerimaan terhadap identitasnya, sekaligus sebagai pernyataan bahwa perempuan bisa kuat tanpa kehilangan sisi lembutnya.

Selain itu, kebaya juga menjadi simbol keterbukaan. Berbeda dengan pakaian yang tertutup rapat, kebaya memiliki desain yang lebih ringan dan terbuka, mencerminkan pikiran Kartini yang progresif dan terbuka terhadap perubahan. Ia tidak menolak tradisi, tetapi mengolahnya menjadi sarana untuk menyuarakan gagasan baru.

Sanggul di kepala Kartini memiliki makna kedewasaan dan tanggung jawab. Dalam budaya Jawa, sanggul bukan sekadar penataan rambut, tetapi simbol kesiapan seorang perempuan dalam menjalani perannya di masyarakat. Kartini, dengan sanggulnya, menunjukkan bahwa ia siap memikul tanggung jawab sebagai agen perubahan.

Bentuk sanggul yang terikat rapi juga melambangkan pengendalian diri. Rambut yang disusun dengan tertib menggambarkan pikiran yang teratur dan emosi yang terkendali. Ini mencerminkan kepribadian Kartini yang tenang namun penuh kekuatan dalam menghadapi berbagai tantangan hidup.

Ketiga elemen busana ini—jarik, kebaya, dan sanggul—menciptakan harmoni antara tradisi dan pemikiran modern. Kartini tidak meninggalkan budayanya, melainkan menjadikannya sebagai fondasi untuk melangkah maju. Busana tersebut menjadi bukti bahwa perubahan tidak selalu harus berarti meninggalkan akar.

Dalam konteks perjuangan emansipasi, busana Kartini juga menjadi simbol perlawanan yang halus. Ia tidak melakukan pemberontakan secara fisik, tetapi melalui pemikiran dan sikap. Dengan tetap mengenakan pakaian tradisional, Kartini menunjukkan bahwa modernitas bisa tumbuh dari dalam budaya itu sendiri.

Pada akhirnya, filosofi busana Kartini mengajarkan bahwa identitas, kekuatan, dan perjuangan bisa berjalan beriringan. Jarik mengajarkan kesabaran, kebaya melambangkan keanggunan dan keterbukaan, sementara sanggul mencerminkan kedewasaan dan tanggung jawab. Keseluruhan busana tersebut menjadi cerminan jiwa Kartini—teguh, bijaksana, dan visioner.